Cape Belajar Bisnis Online Sendiri
Tampilkan postingan dengan label TV Bagi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV Bagi Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Banyak Nonton TV Kurangi Kecerdasan Anak

Ketika ada TV yang menyala diletakkan di kamar tempat anak bermain, fokus mereka akan terganggu (Psychology of Babies, Lynne Murray)


Menonton televisi memang dapat memberikan hiburan sekaligus pelajaran, namun tidak bagi balita. Bahkan jika dilakukan terlalu banyak, menonton TV bisa menurunkan kecerdasan anak.

Sebuah studi baru menemukan, balita yang banyak menonton TV memiliki prestasi belajar yang lebih buruk di sekolah dibandingkan dengan anak lainnya yang tidak atau sedikit menonton TV. Lynne Murray, profesor psikologi perkembangan mengatakan, sangat jelas tidak ada manfaat yang didapat dari menonton TV bagi anak usia di bawah dua tahun.

Studi menemukan, anak yang menghabiskan banyak waktu di depan layar memiliki perbendaharaan kata yang lebih sedikit serta prestasi akedemis yang lebih buruk. Bahkan hubungan ini masih muncul meskipun sudah dimasukkan pula faktor kelas sosio-ekonomi.
Dalam bukunya, Psychology of Babies, Murray menegaskan untuk perlunya memberikan larangan bagi anak di bawah usia dua tahun untuk menonton TV. Tayangan TV selain bersuara keras, juga terlalu cepat pergerakannya untuk diikuti oleh otak anak kurang dari dua tahun.

Hal tersebut dapat menganggu kemampuan bermainnya dan interaksinya dengan saudara dan orangtuanya. Bahkan penempatan TV yang menyala di ruangan pun meski tak ditonton juga berdampak merusak.


Lazada Indonesia

"Ketika ada TV yang menyala diletakkan di kamar tempat anak bermain, fokus mereka akan terganggu," ujarnya.

Di sisi lain, ketika orangtua mendampingii anak saat menonton TV dan menjelaskan apa yang terjadi, maka itu akan mengurangi dampak negatifnya. Menonton program yang sama berulang-ulang juga membantu, karena hal itu akan memberikan kesempatan pada otak untuk memproses informasi dan sudah mampu membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otaknya, Murray menyarankan supaya anak mendapatkan tidur yang cukup setiap hari. Sayangnya, menonton TV yang dilakukan sebelum tidur akan menyulitkan otak untuk mendapat keadaan siap tidur.

Sumber: Unoviana Kartika, health.kompas.com, Rabu, 25 Juni 2014

Selasa, 17 Juni 2014

Televisi Hambat Kemampuan Bicara Anak


Ketika bermain bersama anak sebaiknya orang tua tak menyalakan televisi. (Tiffany Pempek, American Academy of Pediatrics)


Banyak ibu yang menjadikan televisi sebagai bagian dari waktu bermainnya dengan anak. Terkadang mereka mengajak anak menonton TV, namun kadang mereka hanya menyalakan televisi sambil mengajak anak bermain. Kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata memiliki dampak yang besar pada perkembangan anak, terutama balita.

Penelitian menemukan bahwa menyalakan televisi ketika mengajak anak bermain bisa menghambat kemampuan balita untuk belajar berbahasa, seperti dilansir oleh Web MD (13/06). Padahal perkembangan kemampuan berbahasa dan motorik mulai pesat ketika anak balita.

Hasil tersebut ditemukan peneliti setelah mengamati interaksi antara 49 orang tua dan anak mereka yang masih balita berusia 12, 26, dan 36 bulan. Mereka bermain sambil menyalakan televisi selama satu jam. Selama bermain, televisi menayangkan program yang berkaitan untuk dewasa dan anak yang lebih besar.

Peneliti berpendapat bahwa suara televisi yang berada di latar ketika orang tua bermain dengan anak membuat kata dan kalimat yang diucapkan oleh orang tua pada anak menjadi tidak terdengar dengan jelas. Meski orang tua berfokus sepenuhnya pada balita mereka, namun balita tak bisa fokus pada orang tua mereka. Konsentrasi mereka terpecah antara suara orang tua dengan televisi.

Penelitian ini sangat penting karena kebanyakan anak berusia di bawah dua tahun sudah terpapar siaran televisi sebagai suara latar setidaknya 5,5 jam sehari, ungkap peneliti dalam Journal of Children and Media.

Tiffany Pempek, ketua peneliti, menjelaskan bahwa ketika bermain bersama anak sebaiknya orang tua tak menyalakan televisi. Terutama sebaiknya orang tua menghindari konten televisi yang berkaitan dengan orang dewasa atau remaja bagi anak mereka.

Meski bayi tak memahami apa yang ditayangkan oleh televisi dan hanya mendengar suaranya saja saat bermain, namun hal ini bisa menghambat kemampuan mereka untuk belajar berbahasa. Berdasarkan American Academy of Pediatrics, anak seharusnya tak dikenalkan dengan televisi dan hingga mereka berusia 24 bulan atau dua tahun.

Sumber: Kun Sila Ananda, www.merdeka.com, Selasa, 17 Juni 2014

Kamis, 05 Juni 2014

Kartun Memperburuk Konsentrasi Anak



Penelitian dalam jurnal akademik Pediatrics mengenai serial salah satu film, me-nunjukkan menonton kartun yang berjalan cepat dapat merusak konsentrasi dan perilaku anak


      Kebiasaan menonton televisi yang dilakukan pada usia dini membawa dampak buruk di kemudian hari terkait konsentrasi. Semakin dini usianya melakukan kebiasaan ini, anak semakin sulit konsentrasi kemudian hari. Pilihan tontonan seperti kartun juga punya dampak serupa. 

     Penelitian dari University of Washington, Seattle, Amerika Serikat menunjukkan pada anak usia balita, menonton televisi bisa memperbesar kemungkinan terjadinya masalah konsentrasi pada saat anak tersebut berusia tujuh tahun. 

      Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa setiap tambahan satu jam dari jumlah rata-rata menonton televisi setiap harinya, risiko terjadinya masalah konsentrasi pada saat anak berusia tujuh tahun bertambah hingga hampir 10 persen.

     Ini berarti, anak usia balita yang menonton televisi sekitar delapan jam sehari mem-punyai risiko mengalami masalah konsentrasi sekitar 80 persen lebih besar dibanding anak yang tidak pernah menonton televisi. 

Lazada Indonesia

      Penelitian dalam jurnal akademik Pediatrics mengenai serial salah satu film, me-nunjukkan menonton kartun yang berjalan cepat dapat merusak konsentrasi dan perilaku anak. Hasil beberapa pengujian menunjukkan bahwa anak-anak usia empat tahun yang menonton beberapa menit acara televisi populer itu kurang mampu memecahkan masalah. 

        Selain itu, dari penelitian itu juga ditemukan bahwa anak-anak yang menonton acara itu kurang bisa memfokuskan perhatian sesudahnya dibandingkan mereka yang melihat program yang kurang ingar-bingar atau hanya duduk menggambar. 

    "Ini mungkin karena karakter terus bergerak dari satu hal ke fantasi ekstrem ber-ikutnya, dan di mana karakter melakukan hal-hal yang tidak masuk akal di dunia nyata. Hal ini dapat mengganggu kemampuan anak untuk berkonsentrasi segera sesudahnya. Kemungkinan lain adalah anak-anak mengidentifikasi karakter tanpa fokus dan ingar-bingar itu, kemudian mengadopsi karakteristik mereka," kata peneliti, Lillard.

Sumber : Wardah Fajri, female.kompas.com, 24 Mei 2014

Jumat, 30 Mei 2014

Jejaring Sosial Mengganggu Anak

PPC Iklan Blogger Indonesia
   
 "Menggunakan teknologi di kamar tidur bisa menghasilkan kekurangn tidur, mengulur-ulur waktu tidur, mengantuk di siang hari dan lain-lain," Teresa Arora dari Weill Cornell Medical College di Doha, Qatar.


       Anak-anak yang selalu terhubung dengan situs jejaring sosial sebelum waktuk tidur dilaporkan bahwa tidurnya mendekati sejam kurang dari pada mereka yang jarang online, sebuah penelitian terbaru mengabarkan. 

      "Menggunakan teknologi di kamar tidur bisa menghasilkan kekurangn tidur, mengulur-ulur waktu tidur, mengantuk di siang hari dan lain-lain," kata pimpinan penelitian, Teresa Arora, pada Reuters Health dalam sebuah email. "Kelanjutannya, ini bisa mempengaruhi kegiatan di siang hari, saat sekolah," kata Arora, dari Weill Cornell Medical College di Doha, Qatar. 
      
      Para peneliti menemukan bahwa anak berumur 11- 13 tahun tidur kurang signifikan ketika mereka berkomunikasi terus-menerus dengan hand phone, internetan, bermain video game, menonton televisi, mendengarkan musik dan bahkan jika mereka menggunakan komputer untuk belajar sebelum merasa ngantuk. 

      Jejaring sosial dihubungkan dengan hilangnya waktu tidur terbesar. Mereka yang mengatakan bahwa mereka biasanya berhubungan dengan teman secara online sebelum pergi ketempat tidur melaporkan bahwa tidur mereka sangat kurang - rata-rata 8 jam 10 menit sehari - dibandingkan dengan 9 jam 2 menit mereka yang tidak pernah menggunakannya. 

       Penelitian sebelumnya telah menghubungkan turunan waktu tidur dengan obesitas, depresi, sulit mengatur emosi, dan nilai rendah. Sebuah penelitian di Cina yang dipublikasikan bulan yang lalu menemukan bahwa telat tidur bisa meningkatkan tekanan darah anak remaja. Pada penelitian baru-baru ini, peneliti menganalisa hasil surpai terhadap kebiasaan tidur dan teknologi yang diisi oleh 738 siswa pada tujuh sekolah yang telah dipilih secara acak di Midlands, Inggris pada tahun 2010. 

      Anak-anak yang terus-menerus menonton tv sebelum tidur empat kali lebih melaporkan bahwa ter-bangun beberapa kali di malam hari dari pada yang tidak menonton, dan yang sering mengguna jejaring sosial tiga kali lebih sering terbangun. Anak-anak yang bermain video game dan mendengar musik pada jam tidur secara signifikan sangat sulit sekali untuk tidur, peneliti di Sleep Medicine melaporkan.    

      Jadwal tidur anak remaja secara alami berubah-ubah sebagai hasil dari begadang di malam hari dan masalah tidur. Tapi teknologi bisa memperburuknya, tulis Arora dan teman-temannya. Penemuan tersebut tidak mengejutkan bagi Dr. Nanci Yuan, direktur medis Sleep Center di RS Anak Lucile Packard, Palo Alto, Calipornia. Dia tidak tergabung dalam penelitian terbaru ini. 

      "Teknologi saat ini telah membuat setiap kelompok umur, khususnya anak remaja, mengalami kesulitan dengan tidur mereka," Yuan, yang juga meneliti tentang gangguan tidur di Stanford University, mengatakan pada Reuters Health. 

       "Kita melihat banyak masalah turunan dari tidur di masyarakat secara keseluruhan, dan kita melihatnya lebih banyak pada anak remaja. Anak-anak dari 11 sampai 13 tahun membutuhkan 10 dan 11 jam tidur terus-menerus semalaman untuk mengoptimalkan kesehatan, katanya. Dia merekomendasikan remaja untuk mematikan semua alat elektronik, idealnya menjauhkannya dari kamar tidur, sekurang-kurangnya satu jam, dan persiapan dua jam, sebelum tidur. 

     "Kita harus membuat tidur sebagai prioritas sama seperti pentingnya makanan bergizi dan olahraga," katanya. Christina Calamaro sama juga menekankan perlunya mematikan sekurang-kurangnya satu jam sebelum tidur. Dia telah meneliti pengaruh teknologi pada tidur remaja di Nemours/Alfred I. duPont, RS Anak di Wilmington, Delaware. Dia tidak ikut dalam penelitian ini. Calamaro diminta healthcare propesional untuk mengedukasi orang tua tentang kebutuhan anak untuk tidur tanpa gangguan. 

      "Kita perlu mengajarkan remaja batasan-batasan penggunaan teknologi," katanya pada Reuters Health. "Kita perlu benar-benar arahkan ke rumah pesaan ini untuk orang tua tentang contoh kebiasaan tidur di rumah mereka." 

 Sumber: www.cbsnews.com, 24 Januari 2014

Senin, 12 Mei 2014

TV Ganggu Perkembangan Otak Anak

PPC Iklan Blogger Indonesia

Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi pagi perkembangan otak bayi. (Prof. Manfred Spitzer dari Ulm, Jerman)



      Dampak buruk televisi bagi anak kian diyakini oleh para pakar kesehatan. Penelitian pada tahun 2000 di Hamburg, Jerman, menyimpulkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi perkembangan otak bayi. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman, Neu-Isenburg.

     "Bahkan, acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi pagi perkembangan otak bayi," demikian pernyataan dokter akhli yang dimuat dalam majalah tersebut. Bayi mengalami gangguan belajar akibat televisi, demikian laporan ilmuan yang mengacu pada daya kerja otak, Prof. Manfred Spitzer dari Ulm, Jerman.

Lazada Indonesia

      Menurutnya, bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi. Dalam satu penelitian di Amerika Serikat, sekelompok bayi berumur 9 - 12 bulan dibacakan cerita berbahasa Cina, sedangkan yang lain didengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi. Hasilnya, Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu sebulan berselang, dapat mengenali suara dalam bahasa Cina. Namun, kelompok yang menonton televisi tidak  mempelajari apapun dari apa yang dilihat ditelevisi.

    Dampak buruk televisi ternyata tidak sampai disitu saja. Para peneliti tentang otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila orang dewasa tidak membacakan cerita bagi bayinya. 

      Sebuah penelitian yang lain, yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi berusia 8 - 16 bulan. Kesimpulan penelitian tersebut, jika bayi secara berkala dibacakan cerita maka anak-nak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8% lebih banyak dari rata-rata anak kebanyakan. Sebaliknya, jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banya melihat acara "Baby TV" atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20% lebih rendah jumlah kata yang dimilikinya dibanding anak kebanyakan.

Sumber: Republika, Kamis 27 Desember 2000

Selasa, 29 April 2014

Anak Suka Berkelahi dan Mencuri Karena Nonton TV

PPC Iklan Blogger Indonesia

Anak usia 5 tahun yang senang menonton televisi berisiko mengembangkan perilaku antisosial seperti berkelahi dan mencuri di usia tujuh tahun.


Ayah Bunda. Anak-anak kita paling senang menonton televisi hingga berjam-jam. Padahal, menonton televisi (tv) lebih dari tiga jam dalam sehari bisa mengubah perilaku mereka menjadi buruk.

Ini penemuan dari peneliti di Medical Research Council (MRC) Inggris, Ayah Bunda. Katanya, anak usia 5 tahun yang senang menonton televisi berisiko mengembangkan perilaku antisosial seperti berkelahi dan mencuri di usia tujuh tahun. Namun peneliti mengatakan tak bisa menemukan dampak kelamaan menghabiskan waktu untuk bermain komputer dengan perilaku anak-anak.

Penelitian sebelumnya menunjukkan anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar televisi berisiko tinggi mengalami masalah perilaku dan emosional. Di Amerika Serikat, pedoman pediatrik merekomendasikan bahwa waktu total di depan layar harus dibatasi, kurang dari dua jam per hari untuk pendidikan, program tanpa kekerasan. Sayang, saat ini tidak ada pedoman formal di Inggris.

Dr Alison Parkes, Kepala Scientist Office Social and Public Health Sciences Unit di Glasgow mengatakan, studi terbaru ini tidak memberikan bukti untuk mendukung batas maksimum menonton tv pada anak-anak. Seperti masalah emosional dan rentang perhatian yang tidak terpengaruh.

"Awalnya kami menemukan bahwa menonton televisi lebih dari tiga jam sehari dikaitkan dengan meningkatnya semua masalah, tapi ini menghilang ketika kita menyesuaikannya dengan pengaruh keluarga lainnya," katanya seperti dikutip Dailymail, Rabu (27/3/2013)".

Ibu-ibu dari 11.014 anak diminta mencatat jam menonton televisi setiap harinya anak-anak mereka. Termasuk menonton video dan DVD. Dan permainan elektronik biasanya digunakan di usia lima tahun. Para ibu itu juga mengisi kuesioner untuk melaporkan perilaku anak-anaknya, gejala emosional, masalah hubungan dengan teman sebayanya, hiperaktif/kurang perhatian, dan kemampuannya bersosialisai di usia lima dan tujuh tahun.

Pada usia lima tahun, hampir dua per tiga anak-anak yang menonton televisi selama satu hingga 3 jam sehari, dengan 15 persen menonton selama tiga jam atau lebih. Hanya tiga persen yang bermain game elektronik selama tiga jam atau lebih dalam sehari.

Menonton tv selama tiga jam atau lebih per hari pada usia lima diperkirakan meningkatkan 0,13 poin pada skala 10 titik masalah perilaku pada usia tujuh dibandingkan dengan menonton kurang dari satu jam.


Masalah perilaku itu termasuk bertengkar, tidak patuh, atau mencuri, tapi tak ada hubungannya dengan kesulitan lainnya seperti masalah emosional atau perhatian. Studi itu dipublikasikan secara online di jurnal Archives of Disease in Childhood didasarkan laporan kaum ibu pada waktu menonton dan tidak pada konten tontonan di televise.

Para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain seperti pendapatan rumah tangga, pendidikan ibu dan status pekerjaan, perilaku orangtua, hubungan orangtua-anak dan kemampuan kognitif anak, tidur, dan aktivitas fisik.

"Di masa depan akan sangat penting untuk melihat pengaruh anak-anak menonton di tv dan peran orangtua menonton bersama anak dan mendiskusikan konten dengan mereka, serta berapa banyak anak-anak menonton," kata Parkes. 


Sumber: liputan6.com/2013

Senin, 28 April 2014

TV Menggerus Kinerja Otak

PPC Iklan Blogger Indonesia

Tiap satu jam tayangan televisi beresiko menggerus 10 persen daya ingat atau konsentrasi anak.


     Ayah Bunda. Balita, bahkan batita (bawah tiga tahun) sebaiknya jangan dimanjakan dengan tontonan televisi. Riset terbaru membuktikan bahwa bocah yang rajin memelototi televisi cenderung mengalami gangguan daya ingat. Inilah peringatan Peneliti dari Children's Hospital and Regional Medical Center, Seattle, Amerika Serikat.

     Juru bicara tim peneliti, Dimitri Christakis, mengatakan bahwa otak bayi berkembang pesat pada usia dua tahun sampai tiga tahun. Dilain pihak, siaran televisi terus menerus memberikan rangsangan (impuls) yang tidak alami kepada otak si bocah. Rangsangan tak alami ini akan terus-menerus menuntut rangsangan yang serupa. Akibatnya, kepekaan terhadap jenis rangsangan yang lain berkurang dan anak kesayangan cenderung lamban mengerjakan tugas sekolah atau tugas rumah.

        Menurut Christakis, rangsangan tidak alami diperparah oleh makin cepatnya perubahan citra gambar pada layar televisi. Maklum, para produsen TV seperti berlomba dan pamer teknologi mempercepat perubahan gambar untuk memikat pemirsa.

   Riset ini menggunakan metode yang sama dengan yang biasa digunakan untuk mendiagnosa gejala kemerosotan daya konsentrasi (attention deficit disorders). Responden yang terlibat adalah 1.315 anak dan orang tua mereka. Para orang tua ditanyai kebiasaan anaknya menonton televisi dan perilaku anak itu. Kesimpulannya, kata Christakis, tiap satu jam tayangan televisi beresiko menggerus 10 persen daya ingat atau konsentrasi anak.

     Frederick Zimmerman dari Universitas Wasington memperkuat kesimpulan itu. Kata-nya, menjauhkan anak dari televisi lebih baik ketimbang memberinya batasan maksimal. "Mustahil membuat batasan. Setiap penambahan jam akanmenambah resiko."

Sumber: Majalah Tempo Edisi 12 - 16 April 2004

Minggu, 27 April 2014

TV menyebabkan Obesitas

PPC Iklan Blogger Indonesia
 
 Anak yang menonton TV lebih dari 1 jam akan meningkatkan obesitas 2 persen


      Ayah Bunda. TV pun berdampak pada fisik anak-anak kita. Menurut dr. Endang Darmoutomo, MS SpGK, Spesialis Gizi Klinik di RS Siloam Gleneagles, makinlama anak menonton TV makin besar angka kejadian obesitas (kegemukan) pada anak. kelebihan berat badan akibat kelebihan lemak akan berdampak negatif bagi kesehatan.

      "Anak yang menonton TV lebih dari 1 jam akan meningkatkan obesitas 2 persen," katanya.

     Banyak faktor yang menjadi penyebab obesitas. Tapi, penyebab utama adalah ketidak seimbangan antara energi yang masuk dan yang digunakan. Dengan menonton TV lebih dari 1 jam, anak cenderung mengunyah cemilan yang gurih atau manis tanpa diimbangi dengan gerakan yang cukup. Kalori yang masuk kedalam tubuh tidak simbang dengan yang keluar. Ini dapat berakibat buruk pada anak dalam jangka panjang.

     Tahukah Ayah Bunda? Banyak yang bisa terjadi ketika obesitas menyerang kita. Gangguan kesehatan tersebut seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, gangguan tidur, dan kanker. Namun di luar gangguan-gangguan tersebut, akibat kegemukan pada anak bisa menyebabkan gangguan pada fungsi kerja paru-paru. Kejadian tersebut bisa dialami pada anak usia sekolah dan mempunyai riwayat napas yang berbunyi. Imbasnya jika kondisi paru-paru dalam keadaan tidak baik dan tertimbun oleh lemak maka akan semakin berisiko terhadap penyakit asma.


      Hal itu bisa ditengok pada beberapa anak yang mengalami kondisi obesitas maka akan sangat sulit untuk bernapas dan terasa berat. Bahkan ketika mereka berlari makan imbasnya akan terengah-engah. Itulah mengapa dampak obesitas pada paru-paru sangat perlu untuk diwaspadai.

sumber: Republika, 14 Mei 2006
http://buletinsehat.com/

TV Membuat Anak Lebih Agresif

PPC Iklan Blogger Indonesia

Anak-anak yang menonton program mengandung kekerasan selama 1 - 3 jam per hari menunjukkan perilaku agresif 3 kali lebih banyak dibandingkan anak-anak yang menonton program sejenis kurang dari 1 jam per hari


    Ayah Bunda, efek jangka panjang bagi anak-anak yang suka nonton TV adalah sikap agresif. hal ini diutarakan oleh Prof. Dr. Sarlito Wirawan, Psi, psikolog dari Universitas Indonesia.

    Menurutnya, semakin sering anak menonton program TV dengan muatan kekerasan semakin tinggi kecenderungan menjadi agresif. Mereka cenderung mengambil tindakan yang agresif dalam menyelesaikan masalah. "Anak-anak yang menonton program mengandung kekerasan selama 1 - 3 jam per hari menunjukkan perilaku agresif 3 kali lebih banyak dibandingkan anak-anak yang menonton program sejenis kurang dari 1 jam per hari," katanya.

      Tayangan TV yang mengandung kekeraan dapat meningkatkan pikiran-pikiran mengenal permusuhan pada anak dan mengurangi kecenderungan anaka untuk membantu orang lain. Anak pun dapat menjadi toleran terhadap sikap permusuhan dan sikap agresif orang lain.
  

     Nah, Ayah Bunda. Tentunya kita tidak ingin memiliki anak-anak yang suka berkelahi. bahkan tidak hanya dengan teman-temannya, ini bisa dimulai dari rumah. sikap membangkang bahkan kalau dia lagi marah tidak segan untuk memukul orang tuanya.

sumber: Republika, 14 Mei 2006

Sabtu, 26 April 2014

TV Merusak Otak

PPC Iklan Blogger Indonesia
Anak dibawah umur 3 tahun yang dibiasakan menonton TV dalam uji kemampuan membaca dan membaca komprehensif,  mengalami penurunan, serta mengalami penurunan memori (daya ingat).



     Ayah Bunda, Jangan biarkan anak-anak kita menonton TV semaunya. Banyak akibat yang bisa ditimbulkan oleh anak yang terlalu lama memelototi layar kaca. Takhanaya menyebabkan obesitas, tapi jga akan berpengaruh pada kemampuan akademisi dalam jangka panjang.

      Hal ini diungkapkan oleh Dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K), spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap beberapa anak di bawah umur 3 tahun dan umur antara 3 -5 tahun yang dibiasakan menonton TV. Dalam penelitian tersebut, anak yang berumur di bawah umur 3 tahun  menonton TV rata-rata 2 jam sehari dan anak 3 - 5 tahun rata-rata 3 jam sehari.

    Setelah 6 - 7 tahun kemudian dilakukan penilaian. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak dibawah umur 3 tahun yang dibiasakan menonton TV dalam uji kemampuan membaca dan membaca komprehensif,  mengalami penurunan, serta mengalami penurunan memori (daya ingat). Sebaliknya anak yang berumur antara 3 - 5 tahun memiliki kemampuan mengenal dengan membaca grafiknya naik. Artinya apa? Anak yang berumur dibawah 3 tahun lebih rentan memdapatkan efek buruk dari menonton TV.

     Menurut Hardiono, otak berfungsi merencanakan, mengorganonisasi, dan mengurutkan perilakuk untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi, atau atensi (perhatian). Otak juga berfungsi menentukan baik atau tidak. Pusat otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak-anak dan remaja.



   "TV dan game vidio yang mindless akan menghambat perkembangan bagian otak ini (korteks prefrontal)." tuturnya saat peluncuran prograam Dancow Parenting Center (DPC) di Jakarta, tahun 2006 yang lalu.

    Ayah Bunda, dengan banyak membiarkan anak-anak kita menonton TV, otak mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan stimulasi  berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang laian dan bermain kreatif. Masalahnya, karena TV bersifat satu arah. Sehingga anak kehilangan kesempatan dalam tahapan perkembangan yang baik.

Sumber: Republika, Ahad 14 Mei 2006

Entri Populer